Selasa, 17 September 2019

Loser Become Winner


    Kisah ini hadir dari negeri Thailand, ada seorang remaja yang biasa saja bernama Sam (nama disamarkan). Sama seperti kebanyakan remaja pria lainnya, Sam memiliki hobi bermain game online. Bahkan, saat ia berusia 16 tahun, ia menjadi pecandu game online dan membuatnya sampai menelantarkan pendidikan. Jumlah komputer di kamarnya lebih dari 3 unit, dan semuanya dipergunakan untuk bermain game online. Namun ternyata hobi inilah yang pertama kali memperkenalkan Sam ke dunia bisnis. Sam mendapatkan uang dari hasil menjual item senjata-senjata miliknya di game online. Dengan bisnisnya ini, Sam bahkan meraih penghasilan mencapai 1 juta Baht dan dapat membeli sebuah mobil seharga 600 Baht (sekitar 200 juta rupiah). Namun karena ini merupakan bisnis ilegal, hal ini tidak dapat bertahan lama. Rekening game online nya diblok karena ketahuan melakukan transaksi jual beli.

   Dengan sisa uang yang dimiliki, Sam beralih ke usaha barang elektronik. Tapi ternyata usaha itu pun gagal. Sam ditipu, semua barang elektronik yang ia jual ternyata barang palsu dan uangnya pun tidak dapat kembali. Pada saat yang sama, keluarganya bangkrut dan meninggalkan utang sebesar 40 juta Baht (sekitar 12 milyar rupiah). Rumah milik keluarganya pun disita oleh bank.

  Saat Sam berusia 17 tahun, ia putus sekolah dan menjadi penjual kacang (chesnut) bersama pamannya. Ia berusaha mencari strategi berjualan yang baik agar bisnisnya dapat sukses. Ia juga melakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan resep terbaik bagi produk kacangnya agar memiliki rasa yang khas dan unik. Usahanya pun membuahkan hasil, Sam membuka kedai kacang di mall dan melakukan ekspansi bisnisnya besar-besaran. Namun ternyata usahanya memiliki kendala, mesin pembuat kacang goreng yang digunakan Sam menimbulkan asap dan mengotori atap mall. Pihak mall meminta Sam menutup kedainya dan membatalkan kontrak kedai yang telah dibuat.

   Di titik ini Sam hampir putus asa. Ditambah lagi, ia tidak berhasil masuk kuliah di universitas negeri dan harus masuk universitas swasta akibat kemalasannya di sekolah selama ini. Walaupun sedang bangkrut dan terlilit banyak hutang, orangtua Sam masih terus berusaha agar anaknya dapat kuliah. Sam menolak tawaran orangtuanya dengan mengatakan akan membiayai kuliahnya sendiri. Akhirnya Sam bisa kuliah dengan menggadaikan jimat ayahnya yang ia curi.

   Setelah mengalami kegagalan di bisnis kacang, Sam kembali memutar otak. Ia menemukan ide baru untuk menjual rumput laut goreng. Ia kembali memulai bisnis ini dari bawah. Segala hal dilakukannya untuk mengembangkan bisnis. Ia mencari sendiri rumput lautnya, serta belajar bagaimana cara menggorengnya agar hasilnya baik dan enak. Ia juga mempelajari bagaimana caranya agar rumput laut gorengnya tidak cepat basi jika disimpan lama. Untuk mempelajari dan mengembangkan bisnis rumput lautnya, Sam sendiri telah mengeluarkan biaya lebih dari 100 ribu Baht.

   Tidak hanya sampai disitu, setelah menemukan resep yang pas untuk rumput laut gorengnya, Sam kembali memutar otak untuk mencari jalan bagaimana memasarkan produknya ini. Akhirnya ia mendapat inspirasi untuk menjual produk rumput laut gorengnya di minimarket 7-Eleven. Ternyata ini adalah tantangan baru lagi yang harus dihadapinya. 7-Eleven memiliki standar tinggi agar produk Sam dapat dijual ke pasaran; ia diminta untuk memperbaiki kualitas kemasan produknya, serta harus memiliki pabrik agar dapat memenuhi kuota dalam jumlah besar.

  Sam berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan 7-Eleven, namun ia terus menemui kebuntuan. Sam begitu putus asa sampai-sampai ia sempat berpikir untuk berangkat ke China bersama orangtuanya.

   Namun sebelum berangkat ke China, Sam kembali melakukan usaha terakhirnya untuk memenuhi permintaan dari 7-Eleven. Karena tidak punya modal, Sam harus mengajukan pinjaman ke Bank, namun ditolak oleh pihak Bank karena belum cukup umur. Sam baru berusia 19 tahun ketika akan membuat pabrik itu. Akhirnya Sam terpaksa menjual mobil kesayangannya yang dulu dibelinya dari hasil bisnis jualan senjata game online. Sam membuat pabrik kecil untuk usaha rumput laut gorengnya di kantor kecil milik keluarganya yang tersisa. Usaha dan kerja kerasnya pun tidak sia-sia. Dengan sekuat tenaga, akhirnya Sam mampu memenuhi semua syarat dari 7-Eleven sehingga produknya dapat dijual di 7-Eleven Thailand. Dalam 2 tahun sejak hari itu, Sam berhasil membayar semua hutang keluarganya dan berhasil mengambil kembali rumah keluarganya.


   Sekarang diusianya yang baru 26 tahun, produk rumput laut gorengnya menjadi produk rumput laut terlaris di Thailand, bahkan telah masuk juga ke berbagai Negara lain termasuk Indonesia. Usaha Sam ini memiliki penghasilan 800 juta Bath (sekitar 235 milyar Rupiah) pertahun, dan mempekerjakan sekitar 2000 karyawan.


Pesan yang dapat diambil dari kisah ini adalah mengajak kita untuk melihat, bahwa dalam hidup tentu akan banyak rintangan dan kegagala. Tetapi jika kita berhasil melewati itu semua, seluruh kerja keras yang telah kita lakukan akan terbayar dengan kesuksesan, bahkan sangat mungkin hasilnya lebih dari yang pernah kita bayangkan. Kuncinya adalah “Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kalau menyerah habislah sudah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar